Senin, 14 Januari 2008

INSTITUSI SOSIAL

A.Pengertian Pranata Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari istilah institution (menurut ilmu sosiologi berarti pranata) sering dipadankan dengan istilah institute (terjemahan dalam bahasa indonesia adalah lembaga). Berangkat dari kekeliruan inilah, maka penggunaan istilah-istilah ini dalam Bahasa Indonesia harus dibedakan secara tegas. Institution (pranata) adalah sistem norma atau aturan yang menyangkut suatu aktivitas masyarakat yang bersifat khusus. Sedangkan institute (lembaga) adalah badan atau organisasi yang melaksanakannya.
Menurut Horton dan Hunt (1987), yang dimaksud dengan pranata sosial adalah suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting. Dengan kata lain, pranata sosial adalah sistem hubungan sosial yang terorganisir yang mengejawantahkan nilai-nilai serta prosedur umum yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat. Oleh karena itu, ada tiga kata kunci di dalam setiap pembahasan mengenai pranata sosial yaitu:
a.Nilai dan norma
b.Pola perilaku yang dibakukan atau yang disebut prosedur umum
c.Sistem hubungan, yakni jaringan peran serta status yang menjadi wahana untuk melaksanakan perilaku sesuai dengan prosedur umum yang berlaku.
Menurut Koentjaraningrat (1979) yang dimaksud dengan pranata-pranata sosial adalah sistem-sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakat itu untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. Pranata sosial pada hakikatnya bukan merupakan sesuatu yang bersifat empirik, karena sesuatu yang empirik unsur-unsur yang terdapat di dalamnya selalu dapat dilihat dan diamati. Sedangkan pada pranata sosial unsur-unsur yang ada tidak semuanya mempunyai perwujudan fisik. Pranata sosial adalah sesuatu yang bersifat konsepsional, artinya bahwa eksistensinya hanya dapat ditangkap dan dipahami melalui sarana pikir, dan hanya dapat dibayangkan dalam imajinasi sebagai suatu konsep atau konstruksi pikir.
Unsur-unsur dalam pranata sosial bukanlah individu-individu manusianya itu, akan tetapi kedudukan-kedudukan yang ditempati oleh para individu itu beserta aturan tingkah lakunya. Dengan demikian pranata sosial merupakan bangunan atau konstruksi dari seperangkat peranan-peranan dan aturan-aturan tingkah laku yang terorganisir. Aturan tingkah laku tersebut dalam kajian sosiologi sering disebut dengan istilah “norma-norma sosial”.

B.Tujuan dan Fungsi Pranata Sosial
Diciptakan pranata sosial pada dasarnya mempunyai maksud serta tujuan yang secara prinsipil tidak berbeda dengan norma-norma sosial, karena pranata sosial sebenarnya memang produk dari norma sosial.
Secara umum, tujuan utama diciptakannya pranata sosial, selain untuk mengatur agar kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi secara memadai, juga sekaligus untuk mengatur agar kehidupan sosial warga masyarakat bisa berjalan dengan tertib dan lancar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Sebagai contoh, pranata keluarga mengatur bagaimana keluarga harus memelihara anak. Sementara itu, pranata pendidikan mengatur bagaimana sekolah harus mendidik anak-anak hingga menghasilkan lulusan yang handal. Tanpa adanya pranata sosial, kehidupan manusia nyaris bisa dipastikan bakal porak-poranda karena jumlah prasarana dan sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia relatif terbatas, sementara jumlah warga masyarakat yang membutuhkan justru semakin lama semakin banyak.
Untuk mewujudkan tujuannya, menurut Soerjana Soekanto (1970), pranata sosial di dalam masyarakat harus dilaksanakan dengan fungsi-fungsi berikut:
vMemberi pedoman pada anggota masyarakat tentang bagaimana bertingkah laku atau bersikap di dalam usaha untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.
vMenjaga keutuhan masyarakat dari ancaman perpecahan atau disintegrasi masyarakat.
vBerfungsi untuk memberikan pegangan dalam mengadakan sistem pengendalian sosial (social control).

C. Karakteristik Pranata Sosial
Dalam kehidupan masyarakat banyak ditemui pranata sosial, sehingga sering tidak mudah untuk membedakan antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, untuk pemahaman lebih lanjut perlu kiranya mengenali karakteristik umum dari pranata sosial yang dikemukakan oleh Gillin and Gillin, sebagai berikut: (Soemardjan dan Soemardi, 1964:67-70)
v Pranata sosial terdiri dari seperangkat organisasi daripada pemikiran-pemikiran dan pola-pola perikelakuan yang terwujud melalui aktivitas-aktivitas kemasyarakatan. Karakteristik ini menegaskan kembali bahwa pranata sosial terdiri dari sekumpulan norma-norma sosial dan peranan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
v Pranata sosial itu relatif mempunyai tingkat kekekalan tertentu. Artinya, pranata sosial itu pada umumnya mempunyai daya tahan tertentu yang tidak lekas lenyap dalam kehidupan bermasyarakat.
v Pranata sosial itu mempunyai tujuan yang ingin dicapai atau diwujudkan. Tujuan dasarnya adalah merupakan pedoman serta arah yang ingin dicapai. Oleh karena itu, tujuan akan motivasi ataupun mendorong manusia untuk mengusahakan serta bertindak agar tujuan itu dapat terwujud. Dengan tujuan inilah maka merangsang pranata sosial untuk dapat melakukan fungsinya.
v Pranata sosial merupakan alat-alat perlengkapan yang dipergunakan untuk mencapai tujuannya. Alat-alat perlengkapan pranata sosial dimaksudkan agar pranata yang bersangkutan dapat melaksanakan fungsinya guna mencapai tujuan yang diinginkan.
v Pranata sosial itu mempunyai dokumen, baik yang tertulis maupun tidak. Dokumen ini dimaksudkan menjadi suatu landasan atau pangkal tolak untuk mencapai tujuan serta melaksanakan fungsinya.

D. Tipe-Tipe Pranata Sosial
Dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai macam pranata sosial, dimana satu dengan yang lain sering terjadi adanya perbedaan-perbedaan maupun persamaan-persamaan tertentu. Persamaan dari berbagai pranata sosial itu diantaranya, selain bertujuan untuk mengatur pemenuhan kebutuhan warganya, juga karena pranata itu terdiri dari seperangkat kaidah dan pranata sosial. Sedangkan perbedaannya, seperti dikemukakan oleh J.L. Gillin dan J. P. Gillin (1954), bahwa pranata sosial itu diantaranya dapat diklasifikasikan menurut:
G Tingkat kompleksitas penyebarannya
G Orientasi nilainya
1.Tingkat kompleksitas penyebarannya
Besar kecilnya atau luas sempitnya jangkauan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor. Faktor dari dalam pranata sosial terkandung nilai-nilai tertentu, sehingga kemampuan nilai-nilai untuk memenuhi kebutuhan manusia itulah yang turut menentukan luas sempitnya penyebarannya. Faktor yang dari luar pranata sosial diantaranya adalah bagaimana persepsi dan kepentingan masyarakat terhadap nilai serta peranan yang dimiliki oleh pranata sosial, sehingga adanya tanggapan yang baik dan adanya kepentingan yang kuat akan memberi peluang yang lebar untuk dapat diterima serta menyebar luas di masyarakat.
Dengan mendasarkan diri pada tingkat kompleksitas penyebarannya, maka pranata sosial dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu:
u General social institutions
Sesuai dengan namanya, maka pranata sosial ini dapat dikatakan hampir terdapat di setiap bentuk masyarakat, sehingga bersifat universal. Dari kenyataan yang demikian membuktikan bahwa pranata sosial mempunyai nilai yang tinggi dalam kehidupan masyarakat terutama untuk kelangsungan hidupnya. Luasnya jangkauan penyebaran pranata sosial yang demikian ini berarti dikenal, diakui, dan diterimanya pranata sosial itu oleh sebagian besar atau bahkan oleh seluruh umat manusia sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pranata sosial jenis ini dapat dikatakan netral, umum, atau tidak memihak terhadap komponen atau unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Agama merupakan salah satu contoh dari pranata sosial yang bersifat universal atau umum yang menghimpun dari berbagai macam agama tertentu, tanpa memihak terhadap salah satu agama tertentu tersebut
u Restricted social institutions
Pranata sosial ini pada umumnya mempunyai corak yang khas atau khusus dalam kehidupan masyarakat. Kenyataan ini dipengaruhi oleh kaidah-kaidah serta peranan-peranan yang terdapat di dalam pranata itu mempunyai kekhususan. Karena sifat yang demikian, maka pola penyebarannya relatif lebih terbatas dibandingkan dengan pranata yang umum. Hal ini juga disebabkan oleh relatif lebih kecilnya kepentingan serta terbaginya minat warga ke dalam pranata lain yang bersifat khusus. Oleh karena itu, pranata ini daya jangkaunya hanya terbatas pada kelompok, kelas, ataupun golongan tertentu saja, walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa seorang warga dapat melakukan perpindahan dari satu pranata sejenis yang khusus ini ke pranata yang lain. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa pranata sosial yang bersifat umum misalnya adalah agama, sedang pranata sosial yang khusus adalah agama tertentu, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan lain sebagainya.

2.Orientasi nilainya
Seperangkat kaidah sosial yang terkandung di dalam setiap pranata sosial mempunyai arti penting atau nilai di dalam kehidupan masyarakat. Namun, mengingat kaidah sosial itu pada dasarnya dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa tingkatan yang bersifat hierarkis, maka nilai-nilai dari kaidah tersebut juga dapat dikelompokkan ke dalam kategori pokok dan kurang pokok. Berdasrkan klasifikasi nilai yang demikian ini maka dari segi orientasi nilainya, pranata sosial dapat digolongkan sebagai berikut:

u Basic social institutions
Pranata yang bersifat dasar atau utama ini harus ada dalam kehidupan masyarakat, karena terdiri dari kaidah sosial yang memiliki nilai sangat pokok atau utama bagi kelangsungan kehidupan masyarakat. Seperti kaidah yang mengatur pemenuhan hajat hidup manusia, mempunyai nilai paling utama, oleh karena itu pranata sosial yang mengaturnya pun bersifat primer.
Primernya suatu pranata sosial sangat dipengaruhi oleh pentingnya kaidah yang mempunyai nilai sangat tinggi untuk menjamin kelangsungan kehidupan masyarakat, sehingga apabila dalam kehidupan masyarakat tidak terdapat pranata sosial yang bersifat primer ini maka kelangsungan hidup manusia akan terancam. Sebab apabila tidak ada pranata sosial yang bersifat primer berarti tidak ada kaidah sosial yang mengatur pemenuhan kebutuhan pokok hidup manusia secara tertib dan teratur. Dengan demikian, ketidaktertiban pemenuhan hajat hidup itu disebabkan oleh tidak adanya norma sosial yang sekaligus tidak adanya sanksi, sehingga sewajarnyalah apabila individu yang mempunyai kemampuan lebih dari yang lain akan mendominasi pihak yang lemah.

u Subsidiary social institutions
Pranata sosial sekunder didukung oleh kaidah sosial yang nilai-nilainya dianggap kurang penting untuk menunjang kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, jika di dalam kehidupan masyarakat tidak menggunakan pranata sekunder tidaklah mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Sehingga penggunaan pranata ini hanya merupakan tambahan untuk memperoleh kenikmatan dalam hidup.
Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa ada masyarakat tertentu di suatu saat dan tempat tertentu, mempunyai anggapan terhadap pranata sosial sekunder itu sebaga pranata primer. Hal ini di antaranya dipengaruhi oleh perubahan struktur masyarakat dan kemampuan pranata sekunder untuk mengait terhadap pranata primer. Misalnya dalam kehidupan masyarakat yang sudah maju, terdapat beberapa kebutuhan sekunder yang kegiatannya dikaitkan dengan kegiatan primer. Seperti untuk dapat memperoleh kesehatan, rasa keindahan, rasa seni, dan pengembangan diri secara bertahap dikaitkan dengan kegiatan ekonomi. Suatu contoh yang paling mudah kita kenali adalah bahwa kebutuhan pendidikan dalam kehidupan masyarakat kota, bukanlah merupakan kebutuhan yang bersifat sekunder. Karena dengan memperoleh pendidikan, maka individu yang bersangkutan akan ditempatkan oleh masyarakat pada posisi sosial, ekonomi, dan politis tertentu.


KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat kami tarik kesimpulan sebagai berikut :
1.Pranata Sosial merupakan sistim hubungan sosial yang terorganisir yang mengerjawantahkan nilai-nilai serta prosedur umum yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat.
2.Tujuan utama diciptakannya pranata sosial, adalah untuk mengatur agar kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi secara memadai sekaligus untuk mengatur agar kehidupan warga masyarakat berjalan dengan tertib dan lancar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
3.Pranata sosial pada umumnya mempunyai daya tahan tertentu yang tidak lekas lenyap dalam kehidupan bermasyarakat.
4.Pranata sosial merupakan alat perlengkapan yang dipergunakan untuk mencapai tujuannya.
5.Pranata sosial mempunyai dokumen, baik tertulis maupun tidak yang menjadi suatu landasan atau pangkal tolak untuk mencapai tujuan serta melaksanakan fungsinya
6.Pranata sosial dalam kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor,sehingga kemampuan nilai-nilai untuk memenuhi kebutuhan manusia itu yang turut menentukan luas sempitnya penyebarannya. Bagaimana persepsi dan kepentingan masyarakat terhadap nilai dan peranan yang dimiliki oleh pranata sosial, sehingga ada tangapan yang baik tentang kepentingan yang kuat serta memberikan peluang ntuk dapat diterima secara menyebar luas di masyarakat.


REFERENSI :
Narwoko Dwi.I, Suryanto Bagong. 2004. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Prenada Media

Soekanto Soerjono. 2005. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

TIPS BERDAGANG...

Tanggal 12 – 13 kemarin berlangsung training inhouse ATIM di Hotel Horison Makassar. Ada lagi pelajaran berharga yang kudapatkan dari training kemarin. Pada saat training kemarin, saya dan teman-teman FOSMA UNM menggunakan kesempatan tersebut untuk cari dana. Insya Allah sih, dananya nanti akan digunakan untuk membiayai kegiatan seminar nasional.
Ternyata jadi pedagang itu susah banget... Jadi, pelajaran moral yang pertama : kalau mau jadi pedagang harus memiliki kesabaran yang lebih dalam menghadapi pembeli. Apalagi kalau pembelinya banyak maunya. Banyak sekali yang kudapatkan dari training kemarin. K’Jaka dan K’Ilman mengajari kami untuk meniru cara berdagang Rasulullah SAW. Nah...pelajaran moral yang kedua : kalau berdagang kita harus memberitahukan kepada pembeli baik dan buruknya dari barang kita. Jujur...jujur...jujur...
Kemarin aku dibantu oleh K’Isma dan K’Arsil. Oh ya...thank’s juga untuk K’Ilo katanya dah bantu-bantu waktu hari pertama trainuing ya...N’ seluruh pembeli-pembeli saat training kemarin Terima Kasih ya...jangan bosan-bosan jika kami selalu hadir di training-training. Hehehe...
Alhamdulillah, perjuangan kami kemarin berjalan lancar. Ada juga sih hambatan-hambatannya, misalnya susah cari uang kembalian, gak ada kantong plastik, jadi pelajaran moral yang ketiga : kalau emang mau berdagang, siapkan semua hal-hal yang dibutuhkan dalam berdagang, misalnya uang kecil, kantong plastik, dan barang-barang apa yang akan dijual.
Selanjutnya, pelajaran moral yang keempat : saat melayani pembeli berikanlah senyuman terbaikmu, yaitu senyum simetris (2 cm ke kanan, 2 cm ke kiri). Dan... pelajaran moral yang kelima dan yang paling penting adalah : saat menjual jangan mengambil keuntungan dua kali lipat dari harga aslinya.^ _ ^
1.Konsep-konsep antropologi :
a)Konsep evolusi sosial universal H. Spencer
Konsep Spencer mengenai proses evolusi universal yaitu seluruh alam itu, baik yang berwujud nonorganis, organis, maupun superorganis berevolusi karena di dorong oleh kekuatan mutlak yang disebut evolusi universal. Gambaran menyeluruh tentang evolusi universal dari umat manusia, menunjukkan bahwa dalam garis besaarnya Spencer melihat perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari tiap bangsa di dunia itu telah atau akan melalui tingkat-tingkat evolusi yang sama. Namun ia tak mengabaikan bahwa secara khusus tiap bagian masyarakat atau sub-sub kebudayaan bisa mengalami proses.
Spencer pernah mengajukan suatu konsep mengenai proses evolusi pada umumnya. Menurutnya, seperti dalam proses evolusi biologi di mana jenis-jenis makhluk yang bisa hidup lanngsung itu adalah jenis-jenis yang paling cocok dengan persyaratan lingkungannya alamnya, maka dalam evolusi sosial aturan-aturan hidup manusia serta hukum yang dapat dipaksakan tahan dalam masyarakat, adalah hukum yang melindungi kebutuhan para warga masyarakat yang paling cocok dengan persyaratan masyarakat di mana mereka hidup, yaitu kebutuhan masyarakat yang paling berkuasa, yang paling pandai, dan yang paling mampu. Pandangan ini adalah pandangan Spencer mengenai “survival of the fittest”, yaitu daya tahan dari jenis atau individu yang mempunyai ciri-ciri yang paling cocok dengan lingkungannya.

b)Konsep kulturkreis dan kulturschicht dari Graebner
F. Graebner mendapat ide untuk menggunakan suatu cara baru untuk menyusun benda-benda kebudayaan di museum. Benda-benda itu biasanya disusun menurut asalnya, tetapi Graebner mencoba untuk menyusunnya berdasarkan persamaan dari unsur-unsur tersebut. Sekumpulan tempat di mana ditemukan benda yang sama sifatnya itu oleh Graebner disebut satu Kulturkreis.
Metode klasifikasi unsur-unsur kebudayaan dari berbagai tempat di muka bumi ke dalam berbagai kulturkreise itu berjalan sebagai berikut :
Seorang peneliti mula-mula harus melihat di tempat-tempat mana di muka bumi terdapat unsur-unsur kebudayaan yang sama.
Si peneliti kemudian harus melihat apakah di suatu daerah terdapat unsur-unsur lain yang sama dengan unsur-unsur kebudayaan di daerah yang lain. Alasan pembandingan berupa suatu kuantitas dari berbagai unsur kebudayaan disebut Quantitas Kriterium. Tiap-tiap kelompok dari unsur-unsur yang sama tadi masing-masing disebut Kulturkompleks.
Akhirnya peneliti menggolongkan semua tempat yang menjadi pembanding tersebut menjadi satu, seolah-olah memasukkan tempat -tempat tersebut di atas peta bumi ke dalam satu lingkaran. Tempat-tempat tadi menjadi satu Kulturkreis.
Dengan melanjutkan prosedur tersebut, maka di atas peta bumi akan tergambar berbagai kulturkreise,yang saling berpadu dan bersimpang-siur. Dengan demikian akan tampak gambaran persebaran atau difusi dari unsur-unsur kebudayaan di masa yang lampau. Dengan klasifikasi kulturkreise itu direkonstruksikan Kulturhistorie umat manusia dan tampak kembali sejarah persebaran bangsa-bangsa di muka bumi. Dalam kenyataan, klasifikasi kulturkreise itu tidak mudah disusun karena banyak yang harus diperhatikan. Jumlah unsur-unsur dari beribu-ribu kebudayaan yang tersebar di muka bumi ini dapat mencapai angka ratusan ribu. Itulah sebabnya sampai sekarang belum ada ahli yang berhasil mengklasifikasikan semua kebudayaan di dunia itu ke dalam berbagai kulturkreise tertentu. Karena itu juga Kulturhistorie umat manusia juga belum pernah dapat direkonstruksikan kembali.


c)Konsep daerah kebudayaan dari Wissler
Konsep Culture Area Wissler merupakan pembagian dari kebudayaan-kebudayaan Indian di Amerika ke dalam daerah-daerah yang merupakan kesatuan mengenai corak kebudayaan-kebudayaan di dalamnya. Konsep Culture Area dikembangkan karena kebutuhan Wissler untuk mengklasifikasikan benda-benda dari kebudayaan-kebudayaan suku bangsa Indian yang tinggal terpencar di Benua Amerika Utara ke dalam golongan-golongan tertentu guna pameran di museum.
Satu Culture Area menggolongkan berpuluh-puluh kebudayaan yang masing-masing berbeda ke dalam satu golongan, berdasarkan atas persamaan dari sejumlah ciri yang mencolok dalam kebudayaan-kebudayaan tersebut. Ciri-ciri itu tidak hanya berupa unsur kebendaan, seperti alat-alat berburu, alat-alat bertani, senjata, ornamen, bentuk dan gaya pakaian, bentuk tempat kediaman dan sebagainya, tetapi juga unsur-unsur yang lebih abstrak, seperti unsur-unsur sistem organisasi sosial, dasar-dasar mata pencaharian hidup, sistem perekonomian, upacara keagamaan, dan sebagainya. Ciri-ciri mencolok yang sama dalam sejumlah kebudayaan menjadi alasan untuk klasifikasi. Biasanya hanya beberapa kebudayaan di pusat suatu Culture Area yang menunjukkan persamaan-persamaan yang besar dari unsur-unsur alasan tadi. Makin jauh dari pusat, makin berkurang pulalah jumlah unsur alasan yang sama, dan akhirnya persamaan itu habis, lalu mulailah kita masuk ke dalam suatu Culture Area tetangga. Dengan demikian garis-garis yang membatasi dua buah Culture Area tidak pernah jelas, karena pada daerah perbatasan itu unsur-unsur dari kedua Culture Area itu selalu tampak bercampur.

d)Konsep azas klasifikasi elementer dari Levi-Strauss
Secara universal manusia dalam akal pikirannya merasakan dirinya berhubungan dengan hal-hal tertentu dalam alam semesta sekelilingnya, atau dengan manusia-manusia tertentu dalam lingkungan sosial-budayanya, yaitu ia merasa dirinya ber-ototeman (dalam bahasa Ojibwa berarti “dia adalah kerabat pria saya”) dengan hal-hal itu. Dalam hubungan itu manusia mengklasifikasikan lingkungan alam serta sosial budayanya ke dalam kategori-kategori yang elementer.
Metode Levi-Strauss untuk menganalisa gejala-gejala sosial yang menurut pengertiannya berakar dalam cara-cara berpikir elementer dari akal manusia untuk menggolongkan diri sendiri atau kelompok sendiri dengan lingkungan alam atau lingkungan sekitarnya. Selain itu, pendirian Levi-Strauss mengenai cara-cara logika elementer dari akal manusia itu untuk mengklaskan alam semesta dan masyarakat sekitarnya ke dalam beberapa kategori dasar.
Usaha Levi-Strauss dalam menganalisa sistem-sistem kekerabatan dan mitologi, ia tidak bermaksud mencari azas-azas universal dari proses-proses berpikir simbolik yang menyebabkan sistem kekerabatan di dunia hidup dan berjalan biasanya. Dalam analisa Levi-Strauss mengenai sistem kekerabatan, ia mengaitkan sistem-sistem kekerabatan itu dengan masyarakat dan kebudayaan yang bersangkutan. Adapun analisanya mengenai mitologi azas-azas dan prosses-proses berpikir bersahaja dan azas-azas simbolisme yang diabstraksi itu, bersifat benar-benar abstrak dan universal, dan tidak terikat kepada kompleks mitologi dari masyarakat atau kebudayaan yang bersangkutan.

2.Mengapa seorang calon psikolog perlu mempelajari antropologi?
Jawab : seperti yang kita ketahui bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku dan pikiran manusia, sedangkan antropologi aalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dan masyarakat, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, baik yang sedang berkembang maupun yang sudah punah. Dari pengertian ini kita bisa melihat hubungan dari kedua ilmu tersebut.
Dalam mempelajari perilaku seorang individu maupun perilaku masyarakat, terlebih dahulu kita harus mengetahui tentang kebudayaan yang berlaku di lingkungan individu tersebut. Karena tiap kebudayaan memiliki perilaku atau kebiasaan yang berbeda-beda, kebudayaan itulah yang mempengaruhi kebiasaan-kebiasaan ataupun perilaku seseorang.
Dalam sebuah penelitian mengemukakan bahwa sifat kepribadian seorang individu mungkin menjadi penyebab hubungan tertentu antara beberapa pola kebudayaan. Cara berpikirnya adalah kebudayaan tertentu menghasilkan karakteristik psikologi tertentu, yang pada gilirannya menimbulkan ciri budaya lainnya. Kesimpulannya, pendekatan psikologis dalam antropologi budaya menghubungkan variasi-variasi dalam pola-pola budaya dengan pengasuhan anak, kepribadian, kebiasaan, dan kepercayaan yang mungkin menjadi konsekuensi dari faktor psikologis dan prosesnya.
Hubungan psikologi dengan antropologi, telah memunculkan cabang baru dalam anatropoloogi, yaitu antropology in mental health. Bidang penelitian dan pembahasan antropology in mental health ini lebih difokuskan pada emosi-emosi tertekan. Di antara berbagai penyakit jiwa yang diobati oleh para psikiater, ternyata ada yang tidak disebabkan oleh kelainan-kelainan biologis atau kerusakan dalam organisme, melainkan karena jiwa dan emosi tertekan. Keadaan jiwa yang tertekan ini lebih disebabkan aspek-aspek sosial budaya.

Kamis, 03 Januari 2008

PELANTIKAN & RAKER I FOSMA UNM

Forum Silaturahim Mahasiswa (FOSMA) adalah organisasi bagi alumni ESQ Mahasiswa. Dimana seluruh alumni Training ESQ Kelas Mahasiswa akan menjadi bagian dari keluarga FOSMA.
Alhamdulillah, tanggal 3 November 2007 lalu FOSMA Komisariat Universitas Negeri Makassar (UNM) telah terbentuk. Acara pelantikan pengurus ini dihadiri oleh Trainer ESQ K’ Eka Chandra, Ketua Branch Manager ESQ Cabang Makassar K’ Ali Zainal. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh sahabat K’ Trijaka Perkasa, K’ Ai, dan K’ Rahmatullah.
Rencana awalnya pengurus FOSMA Komisariat UNM akan dilantik oleh Pembantu Rektor III UNM, namun beliau berhalangan hadir sehingga kami dilantik oleh Lukman, S.Psi, M.App, Psy yang juga alumni ESQ.
Subhanallah, inilah pelantikan yang lain dari yang lain yang pernah saya ikuti. Pelantikan yang diiringi dengan tetesan air mata karena kami semua bukan berjanji pada organisasi atau pada manusia, tetapi kami berjanji kepada Allah SWT untuk menyebarkan cahaya 165 ini.
Sebelum acara ini dilaksanakan, kami sempat mendapatkan banyak cobaan. Salah satunya adalah adanya kabar bahwa Pembantu Rektor III berhalangan hadir, ditambah lagi teman-teman dari Kantor Cabang ESQ Makassar tidak bisa hadir karena adanya training inhouse. Namun, kami semua tetap berdoa agar acara ini tetap jalan. Subhanallah Walhamdulillah Walailahaillallah Wallahu Akbar, satu persatu tiba-tiba teman-teman dari cabang datang. Ya…mereka datang. Kami semua terharu. Saya masih ingat saat itu saya menangis bahagia, saya membayangkan Rasulullah SAW yang datang merestui perjuangan kami dalam menyebarkan cahaya 165. Padahal sebelumnya, teman-teman FOSMA UNM sharing pada saya, kalau mereka pesimis acara ini akan sukses. Tapi, saya yakin dengan pertolongan ALLAH SWT, karena bagi saya Allah lebih nyata daripada semua yang ada di dunia ini. Adapun struktur dan komposisi pengurus komisariat Forum Silaturahim Mahasiswa ESQ 165 Universitas negeri makassar, yaitu :
Ketua Umum : Arsil Anwar
Sekretaris Umum : Jusmiati
Bendahara : Musyarrafah Saad Rasyid DM

Bidang Internal
Ketua : A. Tien Asmara Palintan
Anggota : Aisyah
Nur Afifatul Ahdian
Rahma
Hijriah Syam
Jus’am
Nur Qadrianti Aman
Nursandi Syamsuddin

Bidang Eksternal
Ketua : Muhammad Hasbi
Anggota : Erwin Saputra
Muzayyanah
Nur Evira Anggrainy
St. Syawaliah G
Muchliza

Bidang Sosial
Ketua : Jamaluddin Ismail Salandra
Anggota : Ratna
Ayu Purnama Sari
Fathiyah Rumi
Arman M. Yusuf
Nur Akmal

Bidang Usaha
Ketua : Bonita Mahmud
Anggota : Ismawati Mustam
Tri Sugiarti
Nur Fadillah Ali
Ainun

Bidang Sarana dan Prasarana
Ketua : Muhammad Takdir
Anggota : H. A. Budi Rahmat
Nurafia
Andi Widya
Uppi
Budi
A.Sareus Amor Palintan

Setelah pelantikan, acara dilanjutkan dengan Rapat Kerja I FOSMA UNM. Setiap bidang merumuskan program kerja mereka masing-masing selama satu tahun kedepan. Adapun program kerja dari setiap bidang, yaitu :
1.Bidang Internal
a.Up Grading
b.Kajian Religi
c.Pelatihan SDM
2.Bidang Eksternal
a.Pelatihan ESQ in house training
b.Renungan 165
c.Seminar open house
d.Lomba penulisan Essay (tema: ESQ)
e.Pembuatan e-mail & FS fosma.
f.Seminar pendidikan
3.Bidang Usaha
a.Infaq & Sadaqah
b.Koperasi
c.Iuran pengurus Rp. 3000/bulan
4.Bidang Sosial
a.FOSMA Peduli
b.FOSMA Anjangsana
c.FOSMA Total Action
5.Bidang Sarana & Prasarana
a.Pengadaan Sekretariat
b.Pengadaan Perlengkapan setiap kegiatan
c.Pengadaan untuk jangka panjang (barang: Sound System, dll)

Alhamdulillah, akhirnya Raker FOSMA UNM ini terlaksana juga.
Terima kasih Ya Allah…
Perjuangan kami belum berakhir…
Masih banyak rintangan yang harus kami lalui…
Tetapi, kami ikhlas Ya Allah…
Kalau dengan semua ini kami bisa bertemu dengan-Mu di surga firdaus-Mu kelak…
Amin…
Selamat berjuang teman-teman…
SALAM JUANG 165…
RINGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN…..

”Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit. Maka menjadi suburlah karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, maka tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering dan lenyap diterbangkan oleh angin. Dan Allah Maha Kuasa atas Segala Sesuatu”
Q.S Al Kahfi : 45

UP GRADING PENGURUS FORUM SILATURAHIM MAHASISWA 165 KOMISARIAT UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Pasca pelantikan pengurus, kegiatan pertama FOSMA 165 UNM pun akhirnya terlaksana. Bertempat di Benteng Somba Opu Makassar tanggal 14-15 Desember 2007 dilaksanakan Up Grading pengurus yang bertujuan untuk membekali pengurus tentang wawasan keorganisasian dan ke-FOSMA-an.
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Branch Manager ESQ Cabang Makassar Bapak Ali Zainal Abidin tersebut diawali dengan renungan yang diantarkan langsung oleh Trainer ESQ Eka Chandra. Hadir pada acara tersebut sebagian besar pengurus FOSMA 165 UNM serta rombongan dari ESQ Cabang Makassar yang seluruhnya berjumlah kurang lebih 25 orang. Setelah istirahat beberapa jam tepat pukul 03.00 Wita dinihari, peserta bangun kembali untuk melaksanakan shalat lail dan shalat subuh secara berjamaah kemudian dilanjutkan dengan tauziah dan dzikir Asma’ul Husna.
Sedangkan untuk materi yang diberikan, wawasan ke-Fosma-an dibawakan langsung oleh Ketua FOSMA 165 Wilayah sulsel saudara Ichram dan materi wawasan keorganisasian oleh Bapak Ahmad A. Razak, S.Ag., S.Psi., M.Si. selain materi di dalam ruangan juga diberikan materi Out Bound. dan akhirnya kegiatan ini ditutup dengan evaluasi dan penetapan visi dan misi FOSMA 165 UNM ke depan yakni mewujudkan Kampus UNM Emas di tahun 2010

UP-GRADING FOSMA KOMISARIAT UNM

Alhamdulilah, pada tanggal 14-15 Desember 2007 lalu FOSMA Komisariat UNM telah melaksanakan Up-Grading. Acara ini merupakan salah satu program kerja dari Bidang Internal. Acara ini dilaksanakn di salah satu rumah adat Benteng Somba Opu.
Acara ini dibuka oleh Ketua Branch Manager ESQ Cabang Makassar, K’ Ali Zainal. Menurut K’ Ali, “Saya sangat senang melihat perkembangan dari FOSMA UNM. Saya berharap perjuangan FOSMA UNM tidak berhenti sampai disini, perjuangan kita masih panjang.” Ya… perjuangan kami masih panjang. Tentunya banyak halangan dan rintangan yang sudah menanti kami. Tetapi, kami harus tetap semangat karena kami yakin bahwa perjuangan kami tidak sia-sia.
Acara ini kemudian dilanjutkan dengan acara renungan yang dibawakan oleh Trainer ESQ k’ Eka Chandra. K’ Eka membangkitkan kembali semangat kami dalam menyebarkan cahaya 165. Ada satu kalimat K’ Eka yang sangat saya sukai dan kalimat itu sebenarnya pernah saya baca dalam Al-Qur’an :
”Sesungguhhya Allah membeli dari orang-orang yang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung”
Q.S At-Taubah:111

Setelah renungan acara dilanjutkan dengan acara sharing antar pengurus. Kemudian dilanjutkan shalat qiyamul lail dan dzikir asmaul husna. Oh ya, sebelum kami siap-siap untuk acara selanjutnnya, kami melakukan senam capoera. Seru juga sich...walaupun gerakannya berantakan, hehehe............
Dalam acara ini, hadir pula ketua FOSMA Wilayah, K’ Ichram, yang memberikan materi kepada kami tentang ke-FOSMA-an serta Ahmad, S.Ag.,S.Psi.,M.Si yang juga memberikan materi dalam acara up-grading ini. Sebelum materi, kami mengadakan acara out-bond yang katanya sih amat sangat melelahkan. Hehehe............
Sebelum acara ini berakhir, kami merumuskan visi misi FOSMA UNM kedepannya, yaitu MEWUJUDKAN UNM EMAS. AMIN.....................
ALLAHU AKBAR!!!!!!!!!!!!!!!!!
RINGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN..............

Make Your Dreams Come True

Sebuah narasi kehidupan telah jauh terpatri
Terpatri indah dalam harmoni kebersamaan
Tanpa sadar dan tanpa rekayasa spekulatif
Kita telah bersama mengaungkan vokal kehidupan
Di dalamnya, terdapat bisikan nurani melankolis
Terdapat letupan ambisi membuncah
Ia………….sebagaimana adanya………dan tanpa kompromi
Menuntut kesadaran akan arti sebuah impian

Memang benar, kita ini bukanlah apa-apa
Dalam belantara jagad maha luas ini
Memang benar, kita bukanlah sesuatu yang patut diperhatikan
Oleh sang malaikat, oleh penguasa waktu
Memang benar, kita hanyalah gabungan
Dari makromolekul yang tak bertuah
Namun……..jangan anggap kami sebagai boneka
Kami tak ingin didikte, tak ingin dijajah, tak ingin dilumat
Oleh tangan-tangan zalim
Ah…………..
Di tempat ini kita melantangkan suara
Mengangkat nyali pemberontak jiwa
Menyalakan sinar perjuangan tulus
Menyatakan langkah yang tercerabut dari asasnya

Wahai kawan kami
Wahai saudara seperjuangan kami
Wahai raga yang teraniaya
Wahai batin yang terbelenggu
Izinkan kami mengguncang kepongahan ini
Larutlah dalam letupan semangat kami
Mendobrak kebodohan…..
Menghancurkan tirani…….
Mengubur dosa-dosa sosial……..

Ingatlah wahai kaum intelektual
Jika benar dalam diri kalilan
Masih ada rasa malu
Masih ada titel manusia sejati
Masih ada nurani yang murni
Mengapa kalian cuma duduk berdiam diri ?
Mengapa kalian rela dibelenggu kemunafikan ?
Mengapa jiwa ini cukup tenang,melihat nestapa yang merajalela?

Bangkit………bangkkitlah……..
Sebab masih banyak impian yang tak terjamah
Masih banyak ruang yang tak tertulis
Jangan biarkan kita mati konyol dalam kebiadaban
Ayo………..
Bangkit mewujudkan impian indah yang menanti

By : pozesif
Psikologi zero six family